Kapolres Binjai AKBP Donald P Simanjuntak (kanan atas), Bos Jamu Ilegal, Agu (tengah atas), kepala BBPOM wilayah Sumut, Sacramento Tarigan (kiri atas), salah satu toko jamu Agu menjual produk jamu ilegal (bawah).

MataSakti.com, Medan | Usaha distributor besar berbagai merek jamu tanpa ijin edar dan mengandung bahan kimia obat berbahaya dilakoni pria dipanggil dengan nama Agu semakin terbongkar.

Hasil investigasi dan informasi diterima, usaha mengedarkan hingga menjual produk jamu yang dapat mengancam nyawa manusia itu ternyata pernah ditindak pihak Polres Binjai sekitar pertengahan 2017 lalu.

Anehnya, meski saat penggrebekan berhasil diamankan berbagai merek dan jenis jamu diduga ilegal, Agu dapat tetap menghirup udara bebas tanpa menjalani proses hukum. Kondisi tersebut tentu saja dapat menjadikan preseden buruk penegakan hukum di negara ini, dan tentunya Agu bisa disebut sebagai pengusaha ilegal kebal hukum.

Terkait informasi dugaan tangkap lepas tersebut, Agu yang dikonfirmasi melalui seluler mengatakan, “Iya pernah, waktu itu pengembangan dari Medan kesini (Binjai), “katanya. Rabu (4/4/18).

Ditanya soal informasi pemberian sogok dari Agu kepada oknum polisi yang melakukan penangkapan terhadap dirinya hingga dapat dilepas, sebesar 150 juta rupiah, Agu menjawab, “Gak segitu bang, yang abang dengar itu semuanya dibesar – besarkan sama orang itu, “sebutnya dari seluler namun terkesan enggan menyebut angka yang sebenarnya dia berikan.

Berita sebelumnya, sekitar seratusan lebih jenis jamu penambah vitalitas pria hingga jamu untuk wanita yang tanpa ijin edar dan mengandung BKO, diantaranya merek Brastolomo, Gali-gali, Daun Mujarab dipasok Agu dari pabrik jamu abal-abal di Propinsi Jawa Barat.

Dalam mengelabui masyarakat supaya berbagai produk jamu berbahaya yang dijual Agu di setiap tokonya lancar , yang salah satunya toko ‘S’ di Pasar Tavip Binjai, Agu juga memajangkan berbagai produk jamu Sido Muncul dan Air Mancur.

Disebut lagi, diperkirakan dalam menjalankan bisnis terorganisir dan merupakan kejahatan kemanusian itu, Agu memiliki omset penjualan mencapai Rp 5 Miliar perbulannya.

Terkait itu, pada konfirmasi sebelumnya, Agu mengatakan, “Gak benar saya bos besar pemasok jamu ilegal, saya cuma jual produk Sido Muncul dan Air Mancur, “kata Agu.

Soal dugaan setoran ke oknum polisi di Polres Binjai dan BPOM, Agu menjawab, “Oh, kita tak ada seperti itu. Kitakan cuma eceran aja, rempah-rempahnya kita jual. Obat kuat pun gak ada,”jawab Agu mengelak meski sudah mengakui.

BBPOM Minta Info Gudang

Di tempat terpisah, Kepala BBPOM Medan, Sacramento Tarigan melalui Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) BBPOM di Medan yang mencakup wilayah kerja Sumatera Utara, mengatakan, “Dimana kalian dapat info, aku tidak dapat info itu. Dimana gudangnya, jangan tokonya ya, kalau gudangnya kami hantam. Soalnya kalau toko dapat pun satu dua biji, itu biasa, “jawab M. Marbun. Rabu (4/4/2018).

Ditanya soal informasi dugaan ada setoran sekitar 30 juta rupiah perbulan kepada oknum di BBPOM Medan dari Agu, M. Marbun mengatakan, “Jangan gitulah, gak ada itu. Gak sekalian aja 250 juta atau 1 miliar, gak ada itulah. Bilang aja dimana gudangnya?, 2,5 M saja kami hantam. Jangan gitulah, “tutup Marbun.

Kapolres Binjai Berkilah

Konfirmasi lanjutan kepada Kapolres Binjai, AKBP Donald P Simanjuntak yang sebelumnya mengatakan akan mengecek gudang jamu Agu, ketika dikonfirmasi lebih lanjut, Selasa (3/4/18), melalui seluler mengatakan, “Sayakan gak kenal dengan siapa ini yang konfirmasi sama saya, kalau mau datang aja ke Polres (Binjai) , langsung konfirmasi ke ruangan saya, banyak yang ngaku-ngaku nanyak kasus berlagak konfirmasi, “jawab Donald kepada wartawan dengan nada tinggi.

 

Diketahui, dalam Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dikatakan, ‘Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah)’. (TP-2)

LEAVE A REPLY