MataSakti.com, Medan – Tak seperti aksi massa di banyak daerah, aksi kemarahan puluhan warga terhadap 2 terduga perampok yang berjaket Go-Jek dan beraksi di kilang padi milik Sugianto alias A Kiaw (60), Jalan Sudirman, Gang Mulia, Lorong I, Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Delisedang, Senin (5/3/2018) pagi pekan lalu, kini diselidiki polisi.

Itu karena 2 pria yang dibantai massa, Nadumaren Hendra (39) alias Hendra, warga Jalan Menteng II, Kecamatan Medan Denai, dan Sahrul Roma, warga Jalan Tirto Sari, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, tewas.

Menanggapi isu yang beredar di media sosial, yang menyebutkan bahwa kedua pelaku hendak menagih hutang pada pemilik kilang, pihak kepolisian membantah dengan tegas.

“Berdasarkan hasil penyelidikan dan hasil gelar perkara bersama tim Unit Pidum Polrestabes Medan, kita menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut adalah murni kasus pencurian dengan kekerasan (Curas) atau yang lebih dikenal dengan bahasa perampokan,” kata Wakapolsek Percut Seituan, AKP Junaidi kepada awak media di ruangan kerja Kapolsek Percut Sei Tuan, Jumat (9/3/2018) siang.

AKP Junaidi, yang didampingi Kanit Reskrim Iptu Philip Antonio Purba dan Panit I Reskrim Ipda Supriadi mengatakan, sesuai hasil penyelidikan dan penyidikan personel Polrestabes Medan Unit Pidana Umum dan Unit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, di tempat kejadian perkara serta pemeriksaan saksi-saksi, baik itu keterangan saksi korban Sugianto alias A Kiaw dan saksi Edi (31) yang saat itu ikut bergumul dengan pelaku, terbukti bahwa kedua pelaku sengaja merampok plastik berisikan uang sekitar seratus juta, giro dan bon faktur yang dibawa oleh A Kiaw saat memasuki kilang padi miliknya.

Junaidi menjelaskan, menurut keterangan A Kiaw, pagi itu ia dari rumahnya di Jalan Cendana, Komplek Cemara Asri No 102, Desa Sampali, tiba di kilang padi miliknya mengendarai mobil.

Setiba disana, A Kiaw, memarkirkan mobilnya di halaman kilang padi miliknya dan ia berjalan kaki sembari memegang satu bungkus plastik asoi menuju ruang kerjanya. Usai membuka dan sedang beres-beres ruang kerjanya, tiba-tiba pelaku Nadumaren Hendra, mendatangi ruang kerja korban namun hanya berada di depan pintu ruang kerjanya.

Sementara pelaku Sahrul Roma menunggu di atas kretanya di dekat pintu masuk kilang. “Saat itu pelaku bertanya berapa harga beras yang ukuran 10 Kg kepada korban. Usai dijawab sama korban, pelaku mengatakan akan kembali lagi nanti, dan pelaku beranjak berlalu meninggalkan korban. Korban yang tak menaruh curiga melanjutkan membereskan ruang kerjanya,” ujar, Junaidi.

Sedang asyik beres-beres, pelaku Nadumaren Hendra, kembali mendatangi korban dan langsung memukuli korban secara membabi buta. Sehingga korban babak belur. Saat dipukuli itu, pelaku mencoba merampas bungkusan plastik yang ada dipegang oleh korban. Di situ korban sempat bertanya kepada pelaku apa yang diinginkan oleh pelaku.

Saat itulah A Kiaw menyadari bahwa pelaku menginginkan bungkusan plastik yang dipegangnya. Takut nyawanya melayang, korban akhirnya melemparkan bungkusan plastik itu ke pelaku. Pelaku yang sudah mendapatkan bungkusan itu, langsung meninggalkan korban di ruang kerjanya dengan kondisi babak belur.

Selanjutnya pelaku menuju ke pelaku Sahrul Roma yang sudah menunggu diatas kreta Vario Hitam BK 4601 AHL, di depan pintu gerbang untuk segera kabur. “Memang keterangan pertama korban sedikit agak berbeda. Keterangan pertama itu, korban mengatakan yang di dalam plastik asoy (kresek) itu hanya bukti bon/utang para pelanggan yang belanja beras,” timpal Kanit Reskrim Iptu Philip Antonio Purba.

Namun menurut Philip, setelah diambil keterangan lanjutan yang dituangkan dalam Berita Acara Perkara (BAP), korban mengakui bahwa di dalam plastik tersebut juga ada uang tunai senilai Rp 100 juta lebih. “Korban takut, kalau nanti semua orang jadi tau kalau selama ini dia bawa plastik asoi berisi uang. Jadi kan sudah jelas bahawa kedua pelaku ini merampok uang korban,” sambungnya.

Ketika disinggung apa alasan korban awalnya tidak mau mengakui bahwa di dalam bungkusan plastik itu ada juga uang. “Menurut pengakuan korban, saat itu dia takut, apabila dia mengakui di dalam plastik itu ada uangnya, besoknya hal itu akan masuk dalam pemberitaan media. Korban takut terbaca oleh orang-orang, bahwa dia setiap hari ke kilang padinya membawa sejumlah uang tunai.

Jadi dia takut akan diikuti oleh perampok seperti yang terjadi sama dia saat ini. Itu lah pengakuan korban, dia takut kejadian serupa akan terulang,” ungkap Philip. Senada, Panit I Reskrim Ipda Supriadi menjelaskan, jika kasus tersebut bukan masalah utang-piutang dan kedua pelaku yang tewas ini adalah orang yang ditugaskan untuk menagihnya ke korban.

Satu hari setelah kejadian, A Kiaw (korban) sudah kembali beraktifitas di kilang padi miliknya. Namun, menurut pengakuan korban, tidak ada datang orang ke kilang padinya untuk menagih hutang. “Kalau kasus ini adalah utang-piutang, sudah pasti besoknya ada yang datang lagi untuk menagih ke korban.

Tapi ini tidak ada yang datang ke korban untuk menagih hutang. Jadi sekali lagi kita menegaskan bahwa kasus ini adalah murni perampokan,” sebut Supriadi. Supriadi juga menambahkan, terhadap sebagian pemberitaan yang mengatakan pihak Polsek Percut Sei Tuan, terkesan lambat sampai ke lokasi kejadian, sehingga nyawa kedua pelaku akhirnya tidak dapat tertolong.

Dan ada juga yang mengatakan bahwa polisi terkesan melakukan pembiaran terhadap massa yang main hakim sendiri sehingga menghilangkan nyawa orang lain.(M24J/TR)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY