ilustrasi2

                               Ilustrasi

Sebagai penjahat kelamin, Sahrun (50) dari Sultra ini rasanya layak dikebiri. Soalnya pada anak tiri sendiri, Imah (17),  kok bisa bangkit nafsu dan kemudian dihamili.

Di era gombalisasi, penjahat kelamin agaknya semakin melebarkan sayap dan sarung. Korbannya bukan saja bini tetangga atau santri-santri wanita, anak tiri bahkan anak kandung di mana-mana menjadi korbankeganasan seks.

Padahal pemerintah sudah merencanakan, penjahat kelamin bakal diberi sanksi hukuman: kebiri kimia. Maksudnya diberi suntikan kimia, bukan dipotong atau diambil “lakher”-nya dari dzakar.

Sahrun warga  Sulawesi Tenggara, agaknya sangat layak menjadi proyek percontohan. Soalnya sebagai lelaki dia sangat nggragas bin rakus. Sudah demen sama ibunya, anak tirinya masih ditelateni juga. Kisah malang yang dialami Imah ini bermula bari peruntungan kelurga yang demikian buruk. Ketika dia baru berusia 12 tahun, sang ayah dipanggil sang khalik. Ibunya yang masih relatif muda, segera menikah lagi dengan Sahrun. Motifnya ada dua, kecuali untuk perlindungan materil, juga demi keberlanjutannya kebutuhan onderdil.

Karena waktu itu Ny. Ruliyah (50) masih STNK, dalam waktu cepat segera dapat suami pengganti. Kehidupan rumahtangga orangtua Imah kembali bersinar. Sebab Sahrun bisa mencukupi keluarganya secara baik, termasuk menyekolahkan anak tirinya. Cuma soal anak kandung Sahrun tak bisa mengharapkan lagi dari sang istri. Jadi kehadiran Ruliyah paling penting untuk menemani olahraga malam.

Tapi ternyata Sahrun tak beda dengan lelaki lain. Lama-lama bosan dia pada istri sendiri, dan kemudian melirik wanita lain. Konyolnya yang diincar justru Imah anak tirinya yang mulai berangkat gede, rapi sudah layak ranjang. Mulailah diam-diam dia merayu Imah. Rupanya sigadis tidak mau, sehingga saking kesalnya, anak tiri itu disiram air panas hingga meninggalkan luka yang membekas.

Baiknya gadis ini, tak mau membuka aib yang diukir ayah tirinya. Sebab dia tak mau ibunya marah dan kemudian berujung pada perceraian. Ketika ditanya sang ibu, dia jawab saja: ketumpahan air termos. Habis perkara.

Diamnya Imah menjadikan Sahrun semakin nekad. Akhirnya, sekali waktu Imah berhasil digagahi. Anehnya, lain hari ketika Sahrun hendak mengulang sukses, Imah tak lagi berontak. Jadi ibarat kata, awalnya mau panggil Hansip, belakangan malah bilang: sip, sip, sip!

Akhirnya dia hamil. Ironisnya, meski ibunya sudah tahu putrinya dihamili suami, dia mendiamkan saja. Bahkan para tetangga di lingkungan sekitarnya juga tidak mengambil sikap. Maka sampai bayi Imah itu lahir, situasi di kampung tetap kondusif.

Skandal itu baru jadi masalah ketika Imah diajak ke rumah kakaknya di Kendari. Dia kaget melihat adiknya kurus. Begitu diberi tahu habis melahirkan akibat ulah bejad ayah tiri, si kakak kandung tidak terima. Dia segera ke Muna dan Sahrun dilaporkan polisi. Hanya hitungan jam, Sahrun naik status jadi tersangka dan ditahan (dac|dwk)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY