Perkiraan lokasi KM Sinar Bangun tenggelam, Senin (18/6/2018) (bbc)

MataSakti.com,Simalungun – Kedalaman perairan Danau Toba yang diperkirakan menjadi lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun mencengangkan semua pihak termasuk Basarnas.Bila kita cari di wikipedia, disebutkan titik terdalam di Danau Toba adalah 505 meter.

Namun fakta ini ternyata tidak benar dan harus direvisi ulang.Bahkan data ini sangat mengejutkan semua pihak.Namun, tentu tak semua di bawah permukaan Danau Toba itu berkedalaman 1.600 meter.

Kedalaman 1.600 meter tersebut adalah kemungkinan palungnya Danau Toba.Dalam video yang diunggah akun Ama Ni Khania Butarbutar, terungkap kedalaman lokasi yang diduga titik KM Sinar Bangun tenggelam mencapai 1.600 meter lebih.

Dalam video itu ditunjukkan monitor Global Positioning System (GPS) di kapal Ditpolair Polda Sumut yang diturunkan dalam pencarian. Monitor GPS menunjukkan kedalaman air yang di bawahnya, menyentuh angka 1.619 bahkan lebih tinggi karena kapal melaju.

Sebagian masyarakat meragukan kedalaman Danau Toba mencapai 1.619 meter.

Pembaca Tribun-Medan.com, Japantun Situmorang, misalnya memberi respons atas beritadan video personel  Ditpolair Polda Sumut yang menyebut kedalaman Danau Toba melebihi angka lama yang sering diketahui umum.

Japantun menilai, terdapat perbedaan antara laporan pembaca data dengan angka terdapat pada alat GPS.

“GPS itu (GPS yang digunakan polisi dalam mengukur kedalaman Danau Tobadi lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun, Red) alat yang memakain standard internasional. Sataun yang dipakai adalah feet. Dalam penerbangan juga dipakai satuan feet. Ini berbeda dari ucapan Polairud dalam videoe itu,” ujarJapantun.

Sesuai standar ukuran, 1 feet atau kaki = 0,304 meter. Dengan demikian 1.619 fee = 492 meter.

Berapa sebenarnya kedalaman Danau Toba?

Kepala Kantor SAR Pencarian dan Pertolongan Medan, Budiawan mengatakan belum mendapat kabar lebih lanjut berapa kedalaman pasti perairan Danau Toba.

“Menurut data informasi yang diterima Basarnas, diperkirakan kedalaman perairan Danau Toba sekitar 800 meter lebih, tapi kita akan pastikan kembali,” kata Budiawan, Sabtu (23/6/2018).

Kepala Basarnas Marsekal Muda M Syaugi mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Kakansar Medan.

“Kita belum tahu itu berapa kedalaman Danau Toba. Makanya saya yakin pakai alat ini. Kalau Multibeam Side Scan Sonar jangkauan 600 meter ke bawah, juga untuk ke sekeliling sudut juga radius 600 meter,” ujarnya.

KM SInar Bangun mengangkut 206 orang saat tenggelam Senin (18/6/2018). Kapal berlayar dari Simanindo, Kabupaten Samosirmenuju Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumut.

Total korban selamat termasuk nakhoda kapal dan 3 korban meninggal dunia, sebanyak 22 orang. Sebanyak 184 korban lainnya masih dalam pencarian.

Sebelumnya, hari ke 1-4 tim Basarnas melakukan pencarian menggunakan manusia untuk menyelam di bawah permukaaan air dan menggunakan alat Remote Observasi Vehicle (ROV), yang bisa menjangkau hingga 350 meter.

Dalam konferensi pers Jumat (22/6/2018), Kepala Basarnas M Syaugi mengatakan pencarian korban dengan titik koordinat yang diduga tempat tenggelamnya KM Sinar Bangun, ternyata melebihi batas jarak yang diperkirakan.

Menurutnya, sampai hari ini belum bisa korban ditemukan, karena kedalaman Danau Toba melebihi 300 meter.

Di peta kedalaman air mencapai 500-550 meter, sehingga harus dibantu oleh TNI AL dan diberikan bantuan alat Multibeam Side Scan Sonar.

Karena peralatan milik angkatan laut ini, punya jangkauan hingga 600 meter dan sudah di pasang dan gunakan sejak tadi siang pukul 12.00 WIB, menuju lokasi yang diperkirakan tenggelamnya kapal tersebut.

Namun saat mendekati lokasi yang diduga tenggelamnya KM Sinar Bangun, alat Multibeam Side Scan Sonar sudah tidak bisa mendeteksi lagi.

“Artinya kedalaman Danau Toba melebihi 600 meter. Tapi kita tetap menuju ketengah tempat perkiraan dan tidak bisa melihat apa-apa. Hingga akhirnya kita menyisir dipinggiran yang bisa melihat 600 meter kebawah. Karena hingga kini kita belum menemukan bangkai kapal,” kata Syaugi, Jumat (22/6/2018).

“Jadi besok kita akan datangkan alat yang lebih besar milik Basarnas dari Pekanbaru. Karena alatnya ini sangat besar. Bagaimanapun kita akan berusaha mendatangkan alat ini. Kemampuan alat ini sama, tetapi kemampuannya bisa sampai 2 ribu meter,” sambungnya.

Terkait kesulitan dengan alang-alang di kedalam laut maupun ganggang, Syaugi mengatakan kesulitan tidak ada. Karena alat ini melihat objek, jadi apabila ada objek dan sampai dasar masih bisa melihat.

Lebih lanjut, Syaugi menjelaskan bahwa alat sejenis Multibeam Side Scan Sonar dengan jangkauan kedalaman 2 ribu meter ini, akan digunakan untuk bisa menyisir semua daerah yang diperkirakan titik koordinat.

“Sekarang ini belum bisa dipastikan titik pasti koordinat kapal dimana. Tapi perkiraan sudah diseser,” ujarnya.

Kepala Kantor SAR Pencarian dan Pertolongan Medan, Budiawan pencarian Jumat di permukaan Danau Toba sejauh 10-20 kilometer.

”Kenapa itu dilakukan karena korban-korban yang mungkin timbul dipermukaan akan terhampar ke bibir danau. Sehingga Tim SAR akan mencari hingga bagian kiri dan kanan bibir danau,” kata Budiawan, Jumat (22/6/2018).

Budiawan menjelaskan bahwa tim yang melakukan penyelaman akan menggunakan alat Scan Sonar dan Multibeam Side Scan Sonar yang didatangkan langsung dari Disposal Mabes TNI AL di Jakarta, bersama dengan Tim pasukan khusus Detasemen Jalamangkar (Denjaka), Batalyon Intai Amfibi (Taifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska).

“Mereka akan bersama-sama melakukan pencarian dimana titik tenggelamnya KM Sinar Bangun,” ucap Budiawan.

Lanjut, Budiawan menuturkan bahwa titik pencarian korban KM Sinar Bangun di hari ke-5 berbeda dengan titik koordinat yang dalam pencarian sebelumnya. Karena Basarnas sudah berkoordinasi dengan Nakhoda KMP Sumut II yang ada di lokasi saat kejadian terjadi.

“Waktu itu KMP Sumut II berdekatan langsung dengan KM Sinar Bangun dan sempat mengevakuasi beberapa korban. Sehingga titik koordinat yang disampaikan Nakhoda berbeda sekitar 2 mil dari titik koordinat kita sebelumnya,” ujar Budiawan.(Tribun/TR)

LEAVE A REPLY