Melalui pengacarannya, Kasman Sangaji, pelantun lagu dangdut Saipul Jamil mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang sudah dia teken. Alasannya, Saiful tidak didampingi pengacara pada saat diperiksa polisi, Kamis-Jumat (18-19/2) lalu. Kasman pun membantah semua pemberitaan yang menyatakan kliennya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak.

Tentu saja bantahan Kasman tidak serta merta mengubah pandangan sebagian masyarakat yang terlanjur mendapat informasi pertama: Saipul Jamil melakukan pencabulan terhadap anak bernama DS. Demikian juga keterangan versi keluarga dan kawan sejawatanya yang menunjukkan ketidakmungkinan Saipul Jamil menggemari sesama jenis: dia laki-laki normal; bukan gay, bukan hombreng.

Polisi pun bergeming dengan aksi pencabutan BAP sebagaimana disuarakan oleh Kasman. Kapolsek Kelapa Gading, Kompol Ari Cahya Nugraha mengatakan, pencabutan itu tidak membawa pengaruh apa-apa. Polisi punya bukti kuat.

Meski demikian sebagian masyarakat mulai ragu dengan keterangan polisi. Bantahan Kasman yang terasa logis, ditambah kesaksian sanak keluarga dan kolega, membuat orang bertanya-tanya: jangan-jangan kita ditipu polisi. Maklum, dalam beberapa kasus polisi tidak tuntas menangani, meski nama tersangka sudah diumbar.

Apalagi saat polisi mengangkat kasus Saipul Jamil, di masyarakat terjadi perdebatan soal wacana Lesbian, Gay, Biseks, Transgender (LGBT). Kontroversi yang awalnya dipicu aktivitas konseling seksualitas oleh perkumpulan mahasiswa UI ini merambah ke semua lapisan. Masing-masing menggunakan argumen dengan perspektif berbeda. Sejauh ini kaum anti-LGBT tampak menguat sehingga bisa jadi polisi membonceng isu untuk menaikkan citra.

Tapi di sini saya tak hendak membahas soal LGBT. Saya justru tertarik membicarakan aksi Kasman yang memainkan media untuk membela kliennya. Kasman tentu sadar, kliennya adalah seorang artis tenar yang banyak penggemar. Bahkan kliennya kini sedang dalam puncak popularitas berkat peran sebagai juri pentas dangdut di televisi. Acara pentas dangdut ini sedang paling banyak penggemarnya.

Oleh karena itu, Kasman percaya diri. Sang pengacara ini merasa apa yang diucapkannya tentang Saipul Jamil, pasti akan jadi bahan berita. Situasi inilah yang dimanfaatkan secara maksimal, sehingga dia menyediakan waktu 24 jam untuk dihubungi awak media, khususnya media hiburan.

Kasman mungkin berpikir, pernyataan-pernyataan tajam berkali-kali muncul di layar televisi akan mengubah pandangan masyarakat. Dengan demikian Kasman berharap, masyarakat tak hanya meragukan keterangan polisi, tetapi juga memusuhi dan menekan polisi untuk membebaskan kliennya.

Yang barangkali kurang disadari oleh Kasman, perang media sekarang tidak hanya berlangsung di media konvensional, yaitu koran, majalah, radio dan televisi, tetapi juga di internet. Justru di medsos perang itu berlangsung paling dahsyat. Malah akhirnya media konvensional sering mengikuti genderang media sosial. Pada titik inilah, jika tidak lihai, Kasman dan kliennya justru akan jadi korban keganasan pengguna media sosial.

Coba perhatikan kasus kopi sianida yang menimpa Jessica Kumala Wongso. Pernyataan-pernyataan Jessica dan pengacaranya di media konvensional segera jadi bahan gunjingan di Twitter, Facebook, Instagram, dan Youtube. Demikian juga komentar para ahli hukum, ahli forensik, praktisi hukum, dokter, psikolog, dan lain-lain, semuanya tayang bak film drama. Di sana, di media sosial, Jessica seakan tidak punya ruang membela diri. Bahkan keterangan dan bantahannya seringkali jadi bumerang.

Saat Jessica mengatakan tidak mencicipi kopi Vietnam bersianida dengan alasan menderita sakit maag, tak lama kemudian muncul keterangan, kesaksian, bahkan ilustrasi plus foto yang menunjukkan Jessica memesan cocktail mengandung alkohol, zat yang lebih berbahaya untuk pengidap maag.

Masih kurang meyakinkan, sejurus kemudian muncul informasi, bahwa saat diperiksa polisi, Jessica memesan kopi. Lalu muncullah foto Jessica sedang menggenggam gelas berisi kopi. Foto yang tersebar luas di media sosial itu memberikan pesan bahwa Jessica tidak punya masalah dengan sakit maag dan kopi.

Jessica kadung menjadi bulan-bulanan media sosial. Bahkan sebagian masyarakat percaya lulusan Universitas di Australia ini menjadi tersangka akibat trial by the press. Jesicca diadili media massa konvensional, karena mereka juga ikut larut dalam perbincangan yang riuh rendah di jejaring sosial.

Memainkan media untuk membela klien, memang salah satu strategi yang biasa dilakukan pengacara. Namun mereka harus menyadari, dunia media sudah berkembang pesat sejak teknologi internat menjadi bagian kehidupan masyarakat.

Menurut Survei AC Nielsen 2015, televisi masih menjadi ranking pertama sebagai pembawa pengaruh ke publik, rangking selanjutnya adalah media sosial. Namun dalam dunia komunikasi sehari-hari keduanya saling berkelindan dan saling bersinergi, sehingga jika tidak digunakan berhati-hati, maka pemanfaatan media justru bisa menikam para pengacara dan kliennya (mdk|dwk)

LEAVE A REPLY