Aksi dorong antara demonstran dengan Satpol PP. (Elisbet/metro24jam.com)

MataSakti.com,Siantar – Demonstrasi ratusan pedagang yang menuntut untuk membatalkan pembangunan Gedung II Pasar Horas, Jalan Merdeka Kota Siantar, berakhir ricuh.

Pedagang dan mahasiswa DARI GMNI, terlibat bentrok dengan Satpol PP yang melakukan pagar betis di depan pintu masuk ruang Kantor Walikota Siantar, Senin (9/4/2018) sekira jam 11.00 wib.

Aksi bentrok tersebut dipicu desakan agar Walikota Hefriansyah menerima para pedagang yang datang bersama puluhan mahasiswa. Tapi, meski sudah melakukan orasi secara bergantian, Walikota tak kunjung hadir.

Bahkan, Asisten III Baren Purba, saat menemui pedagang justru ditolak pengunjukrasa. Dikatakannya, bahwa walikota tidak berada di tempat dan Baren berjanji akan menyampaikan aspirasi pedagang.

“Saya akan menyampaikan aspirasi saudara kepada pimpinan,” ujarnya sembari mengatakan bahwa Pemko Siantar sedang berduka karena ada pejabat yang meninggal dunia.

Namun, ucapan tersebut justru menuai cemoohan dan pengunjukrasa tetap menuntut agar walikota yang menerima kedatangan mereka. Karena tidak tercapai negosiasi lagi, Baren akhirnya meninggalkan pengunjukrasa dan masuk ke kantor walikota.

Tak puas dengan penjelasan Asisten III ini, pedagang memutuskan menerobos pagar betis dari puluhan personel Satpol PP agar bisa masuk ke ruangan Kantor Walikota. Namun, upaya tersebut mendapat penjagaan ketat dari petugas Satpol PP. Setelah sempat terjadi dorong-dorongan, situasi akhirnya semakin memanas dan tidak terkendali lagi.

Kontak fisik antara mahasiswa dengan personel Satpol PP tak terhindarkan. Untuk menetralisir situasi, mahaasiswa dan pedagang akhirnya mundur. Kemudian, unjuk rasa pedagang kembali normal. Tetapi, mereka tetap ngotot untuk bertemu dengan walikota.

Pedagang, dalam orasi yang disampaikan David Marpaung menjelaskan, bahwa PD PHJ selaku pengelola Pasar Horas Siantar bermaksud membangun kios baru bagi pedagang kaki lima dan pedagang tempel di balairung di sekitar Jalan Thamrin.

Saat sosialisasi, PD PHJ menjelaskan akan membangun kios dua lantai di mana lantai I untuk pedagang kaki lima dan lantai II untuk pedagang tempel. Namun, untuk memperoleh kios tersebut, seluruh pedagang diwajibkan membayar Rp65 juta dengan menyetor uang muka Rp15 juta dan sisanya dicicil dengan bunga 1,1 persen.

Hal itulah yang membuat pedagang berontak dan menggelar unjukrasa. Setelah jeda sebentar, aksi dorong-dorongan kembali terjadi lagi. Namun, seorang mahasiswi FKIP Nomensen Siantar, Feronika boru Aritonang, diduga telah dipukul Satpol PP pada bagian telinga kanannya.

Akibatnya, mahasiswi yang tergabung dalam GMNI itu mendadak pingsan. Hal itu membuat mahasiswa lainnya yang bergabung di GMKI spontan emosi dan terus berusaha menerobos hadangan para pegawai Satpol PP. Sebagian mahasiswa juga akhirnya melemparkan sandal dan botol mineral karena massa melihat oknum Satpol-PP kabur ke dalam kantor Walikota Siantar.

Beberapa saat kemudian, Sekda Budi Utari Siregar menghampiri massa dan menanggapi tuntutan pedagang. Budi Utari menyatakan akan merapatkan hal tersebut dengan instansi terkait dan berjanji mengadakan pertemuan kembali pada hari Rabu (11/4/2019) dengan melibatkan pedagang dan Direksi PD PHJ.

Meski sempat terjadi dialog sengit, Sekda menghimbau kepada pedagang untuk kembali berjualan dan pulang dengan tertib dan para pedagang akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

DPRD Siantar Sebelumnya, para pedagang lebih dulu berunjukrasa di kantor DPRD Siantar dan diterima Wakil Ketua, Timbul Lingga bersama sejumlah anggota dewan lainnya. Kepada pedagang dikatakan, bahwa DPRD belum mendapatkan konsep yang yang jelas mengenai rencana pembangunan kios di Pusat Pasar Horas Siantar tersebut.

Lingga berjanji, pihaknya akan memanggil PD PHJ untuk mempertanyakan kebijakan dimaksud. Sebelum dilakukana pertemuan dengan DPRD Siantar, Timbul menghimbau kepada pihak PHJ suspaya tidak buru-buru melakukan pembangunan. (M24J/TR)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY