MataSakti.com, Padang –¬†Sebanyak 104 warga dari 6 suku di Desa Pasakiat Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat dilaporkan mengalami keracunan usai menyantap daging penyu saat acara adat pekan lalu. Dari jumlah tersebut, 16 orang di antaranya masih dirawat intensif.

Rinciannya, dua orang dirawat di puskesmas dan 14 orang terpaksa dirawat di Balai Desa. Hingga saat ini, tiga orang yang terdiri dari dua balita dan satu lansia meninggal dunia akibat keracunan.

“Tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengonsumsi penyu,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat, Merry Yuliesday, Selasa (27/2).

Menurut catatan Dinas Kesehatan Sumbar, kejadian serupa sudah kerap terjadi di Kepulauan Mentawai. Dalam kurun waktu 13 tahun, dari 2005 hingga 2018 ini, sudah ada sembilan kejadian keracunan penyu yang menelan korban 33 orang meninggal dunia. Dari seluruh rentetan insiden keracunan penyu di Mentawai, diperkirakan sudah ada 752 orang terimbas.

Ada penjelasan ilmiah mengapa mengonsumsi daging penyu berisiko keracunan. Merry menjelaskan, alga dan ubur-ubur merupakan makanan favorit penyu. Masalahnya, alga merupakan jenis tumbuhan air yang banyak menyerap logam berat. Kandungan logam berat disinyalir banyak ditemukan di Samudra Hindia yang berdekatan dengan sentra-sentra industri. Apalagi penyu bermigrasi dalam jarak ribuan kilo meter (km).

Sebuah kajian ilmiah juga pernah dilakukan terhadap daging penyu. Ternyata, di dalam daging penyu ditemukan kandungan logam berat Kadmium hingga 3 kali lipat dibanding daging ikan dan kandungan merkuri 10 kali lipat lebih tinggi dari ikan pada umumnya. “Makin tua umur penyu makin tinggi kandungan racun. Penyu paling banyak terkontaminasi logam berat, dan umur penyu bisa puluhan tahun,” kata Merry.

Sebuah penelitian laboratorium pernah dilakukan terhadap sampel penyu yang menyebabkan kasus keracunan di Desa Bosua, Pulau Sipora pada 2013 lalu. Hasilnya, ditemukan kandungan arsenik yang membahayakan kesehatan manusia.

Kepulauan Mentawai memang merupakan salah satu tempat favorit bagi penyu untuk bertelur, lantaran kualitas airnya yang jernih dan pantai yang masih bersih. Baru setelah bertelur, penyu melanjutkan kembali perjalanannya ke belahan lain di dunia, seperti Benua Amerika atau Afrika.

“Ayo masyarakat jangan lagi mengonsumsi penyu karena penyu juga mengandung Arsenik atau campuran berbagai pestisida. Pada daging ini juga ditemukan mikroba,” kata Merry.(RPLK/TR)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY