Seorang petugas polisi Turki menembak mati duta besar Rusia untuk negara setempat, Andrey Karlov di sebuah pameran seni di Ankara, Senin waktu setempat. Setelah menembak, polisi yang diketahui bernama Mevlut Mert Altintas (22) berteriak ‘jangan lupa Aleppo’ sambil melepaskan tembakan.

Seperti diketahui, Rusia ikut berperan dalam membantu rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam mendorong untuk merebut kembali sektor timur Aleppo, yang telah dipegang oleh pemberontak selama hampir empat tahun.

dubes rusia untuk turki Andrey Karlov 2016 Merdeka.com/cnn

Dikutip dari CNN, Selasa (20/12), Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan, pelaku, Mevlut Mert Altintas lahir pada tahun 1994 di kota Soke di provinsi Aydin Turki.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, pembunuhan itu merupakan bentuk provokasi hubungan Turki dan Rusia. Putin bersumpah untuk meningkatkan keamanan di setiap misi diplomatik.

“Pembunuhan ini jelas merupakan provokasi yang bertujuan merusak normalisasi hubungan Rusia-Turki serta untuk mengganggu proses perdamaian di Suriah dipromosikan oleh Rusia, Turki, Iran dan negara-negara lain tertarik untuk mempromosikan menetap krisis di Suriah,” kata Putin.

Sementara itu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan, pembunuhan itu tidak akan menyurutkan upaya kedua negara untuk membangun hubungan yang lebih kuat.

“Kita tahu bahwa ini adalah provokasi menghancurkan hubungan antara Turki dan Rusia selama proses normalisasi ini. Semua harapan apa yang ingin mereka capai dengan serangan ini akan sia-sia dan tidak pernah terjadi,” kata Erdogan (mdk|dwk)

LEAVE A REPLY